Jumat, 03 Juni 2011

STRES, KONFLIK dan KOMUNIKASI ORGANISASI

 Salah satu masalah yang paling serius menimpa anggota – anggota organisasi adalah masalah stres. Cara orang berkomunikasi bisa jadi meinmbulkan stress pada diri mereka dan orang lain, dan stress juga dapat mempengaruhi cara orang berkomunikasi. Karena komunikasi menimbulkan stress dan juga merupakan respons terhadap stress, strategi untuk mengurangi stress dapat diperkenalkan dalam berbagai waktu (R. Wayne Pace Don F Faules, komunikasi organisasi 2006).
Definisi Stres
Stres adalah penderitaan jasmani, mental, atau emosional yang diakibatkan, interpretasi atas suatu peristiwa sebagai suatu ancaman bagi agenda pribadi seorang individu (R. Wayne Pace Don F Faules, komunikasi organisasi 2006). Definisi ini dapat diterjemahkan sebagai suatu model perkembangan dan pelepasan stress yang berdasarkan premis bahwa interpretasi atas suatu peristiwa adalah apa yang menimbulkan baik konsekuensi positif ataupun konsekuensi negative.
Sebuah peristiwa adalah kejadian yang nyata atau dibayangkan dalam kehidupan seseorang. Setiap peristiwa, terutama yang mendorong respon negatif, cenderung menimbulkan ancaman kepada agenda pribadi individu. Agenda pribadi terdiri dari kegiatan – kegiatan atau tindakan yang dilakukan seseorang untuk mencapai tujuan hidup yang penting. Apabila dalam melakukan tindakan dalam suatu dan tindakan itu mempunyai konsekuensi terhadap tujuan kita itu juga dapat menimbulkan stress, bila konsenkuensi itu terlihat mengancam pencapaian tujuan.
Menginterpretasikan, bahwa memeberikan suatu makna dan mampu menjelaskan apa makna dari peristiwa tersebut. Bila interpretasi anda menyarankan bahwa peristiwa itu akan menimbulkan suatu ancaman bagi suatu tujuan, maka hal itu berpotensi menimbulkan reaksi negatif dan menyakitkan dan menimbulkan stres.
Konsenuensi negatif terdiri dari suatu penderitaan jasmani atau emosional. Konsekuensi emosional negative  tidak hanya mencangkup perubahan kepribadian , namun juga mimpi buruk, khawatir frustasi. Erat kaitannya dengan problem emosional adalah konsekuensi mental negatif seperti mudah lupa, konsentrasi lemah, sikap negative, kebosanan, ketumpulan paca indera (Lazarus, 1981).
Konsekuensi relasional negative, meliputi kondisi – kondisi seperti perasaan terasing, intoleransi, kebencian, kesepian. Setiap peristiwa yang ditafsirkan sebagai ancaman yang mungkin bagi tujuan atau agenda pribadi seseorang mungkin menghasilakn satu atau lebih konsekuensi negative yang bersifat jasmani, emosional, mental, relasional, atau spiritual. Pertimbangan yang penting dalam menghadapi stress adalah bahwa pelepasan stres membuat orang merasa lebih baik dan memebantu orang hidup lebih lama.
STRATEGI MENGHINDARI STRES
Terdapat tiga strategi untuk menghindari stres, yaitu :
1.      Meminimalkan efek konsekuensi jasmani melalui kelagaan sementara,
2.      Memperkuat kemampuan orang untuk mengatasi konsekuensi jasmani berdasarkan basis jangka panjang
3.      Menginterpretasikan peristiwa peristiwa dalam kehidupan
Kelagaan sementara
            Terdapat 3 strategi umum yang dapat dilakukan, yaitu :
1.      Pelarian. Dengan menjauhkan diri atau lari dari peristiwa yang dianggap menimbulakn stres.
2.      Penenangan instan. Melakukan prosedur yang disebut rangkaian penenangan instan, dengan mencari sensasi instan yang menenangkan, seperti menarik nafas dan mengeluarkan secara perlahan.
3.      Gerak badan untuk kesenangan. Dengan melakukan latihan jasmani, ini dirancang untuk membantu kita untuk memperoleh kondisi badan yang baik.
Kesehatan badan jangka – panjang
            Pemeriksaan kesehatan. Untuk memantau tingkat kesehatan dengan memeriksa bdan setiap tahun
            Nutrisi yang baik. Dengan nutrisi yang baik akan memeberi kontribusi bagi kemampuan utnuk mengatasi stress.
            Gerak badan untuk kesehatan. Dengan gerak badan merupakan salah satu cara yang baik untuk mengatasi stress. gerak badan cenderung menghasilkan tiga konsekuensi dasar yang positif yaitu, stamina, fleksibelitas, dan kekuatan. Bila anda merasa badan anda sehat, ada akan lebih mampu memfokuskan pada pengembangan keterampilan untuk melakuakn program jangka panjang demi pemeliharaan daya tahan mental, emosional, relasional, dan spiritual yang memungkinkan anda untuk memanfaatkan kemampuan komunikatif anda dalam mengatasi stress dan menikmati hidup.
Kekuatan mental, emosional, relasional, dan spiritual jangka panjang

Model ini didasarkan pada asumsi bahwa peristiwa secara langsung menyebabkan konsekuensi. Interpretasi pada suatu peristiwa yang menghasilakan baik knsekuensi (stres) yang positif ataupun konsekuensi yang negatif dalam kehidupan seseorang.
            Komunikasi menyangkut interpretasi peristiwa, jadi pelepasan stres jangka panjang harus berdasarkan pemahaman tentang bagaimana kita dapat menginterpretasikan peristiwa sehingga meminimalkan penderitaan dan memaksimalkan kedamaian dan kenyamanan. Di ini terdapat lima strategi komunikatif atau interpretatif yang memberi kontribusi terhadap pelepasan dan pengurangan stress, yaitu :

Strategi  Komunikasi Satu: Perkuat Harapan
Harapan adalah unsur paling dasar dari kedamaian, prestasi dan keberhasilan. Mempunyai harapan berarti mempercayai  dan bertindak seakan-akan apa yang anda inginkan dapat tercapai. Harapan adalah melihat, mempersepsi, menginterpretasikan kondisi hidup sedemikian rupa sehingga mereka percaya bahwa apa yang ingin dicapai adalah mungkin untuk anda pegang, miliki, atau capai (R. Wayne Pace Don F Faules, komuniasi organisasi 2006). Sebaliknya ketika tidak harapan itu menggangap bahwa  sesuatu tersebut tidak bisa dicapai. Ketika kita memnginginkan sesuatu dan betul-betul menginginkannya, namun kita tidak melihat jalan untuk mendapatkannya, kita akan mengalami stres.
Kemungkinan terjadinya hal-hal yang kita inginkan didasarkan pada empat syarat dasar:
1.       Harus mempunyai pikiran yang jelas mengenai apa sesungguhnya yang kita inginkan.
2.      Harus merasa bahwa kita memiliki energi memadai untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.
3.      Harus merasa bahwa kita memiliki bakat, keterampilan, dan kemampuan untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
4.      Harus merasa bahwa mampu mendapatkan apa yang kita inginkandengan menggunakan energi  yang diterapkan dalam kemampuan mengerjakan tugas.
Strategi Komunikatif Dua: Keterhubungan
            Keterhubungan adalah pengaruh yang memilihara dan secara sosial mendukung keluarga, kawan-kawan, tetangga, organisasi komunitas, identifikasi nasional, dan ikatan dunia. Semakin banyak penelitian menunjukan bahwa dukungan sosial dalam bentuk hubungan interpersonal di tempat kerja merupakan pengaruh yang kuat dalam pengurangan stress. Organisasi distrukturisasikan untuk mendorong agar dukungan sosial terjadi secara alami. Bila tidak demikian , setiap anggota organisasi harus memberikan perhatian khusus kepada kulaitas komunikasi dan dukungan sosial yang ia peroleh dan berikan. Dan memperoleh keterampilan komunikasi interpersonal yang berguna untuk memupuk hubungan berkualitas dan dukungan. Ada beberapa yang mengganggap iklim di organisasi tersebut negatif sehingga organisasi tersebut ditinggalkan.
Strategi Komunikasi Tiga: Kehati-hatian
            Kehatian-hatian adalah seni menerima kehidupan ketika kehidupan itu datang dan menikmatinya dari saat ke saat. Sehingga mendorong bahwa setiap saat hidup itu seolah-olah penting dan harus diperhatikan, dijaga, diterima dan dihargai. Berarti sekedar mengakui apa yang sedang terjadi dan menerima apa adanya.
5 Prinsip Dasar:
1.      Tanpa Usaha Keras, membiarkan segala sesuatu terjadi alih-alih memaksanya untuk terjadi.
2.      Tanpa Penilaian,berarti menyaksikan peristiwa kehidupan dan memperhatikan apa yang sebenarnya sedang terjadi atau kata lainmenerima periatiwa apa adanya.
3.      Perspektif terbuka, berarti memandang kehidupan dari suatu sudut pandang yang segar, melihat peristiwa dengan cara yang baru.
4.      Kepercayan diri, berarti kesedian untuk mempercayai dan bergantung pada pengalaman kita sendiri sebesar pada pengalaman orang lain.
5.      Kesabaran, berari menunggu dengan bijaksana yaitu tanpa mengeluh dengan hambatan.
Strategi Komunikatif Empat: Daya Tahan           
            Daya tahan terdiri dari seperangkat kepercayaan tentang diri sendiri , peristiwa di dunia, dan interaksi antara keduanya yang berasal dari tiga faktor:
1.      Komitmen
Ketika anada mempunyai rasa percaya diri bahwa anda dapat menemukan sesuatu yang menarik atau penting mengnai apa yang sedang dilakukan itu dinamakan memiliki komitmen. Bila tidak ada komitmen, keterasingan dan kebosanan yang kronik akan dialami, yang menimbulkan kehampaan dan kelambanan.


2.      Kontrol
Bila ketika percaya kita dapat mempengaruhi segala hal yang terjadi di sekitar anda dan anda juga punya kemauan untuk bertindak berdasarkan kepercayaan tersebut, maka anada punya kontrol. Bahwa tanpa kontrol orang merasa lemah atau menjadi korban keadaan.
3.      Tantangan
Ketika hidup dijalani dengan memperjuangkan perkembangan yang memungkinkan gangguan dan kegagalan tampak menjadi penglaman yang membuat anda belajar dan tumbuh maka kita memiliki naluri menyenangi tantangan.  Saat anda tidak menyukai tantangan ketikan ada perubahan yang dianggap mengancam kehidupannya maka anda akan menjadi stres.

Strategi Komunikatif Lima: Kesedian Memaafkan
            Perlu bagi pengurangan dan pelepasan stres dalam kehidupan kita karena hal tersebut menyangkut redanya kebencian. Kebencian adlah setiap perasaan negatif, betapapun kecilnta terhdaoo orang, objek, atau peristiwa, meskipun sebagian besar kebencian tampaknya melibatkan apa yang orang lakukan dan katakan pada kita. Ketika kita memutuskan untuk membenci apa yang orang katakan atau lakukan, kita memilih untuk hidup dengan penderitaan emosional yang kita sebut stress. Kesedian memafkan berarti kita melepaskan kebencian kita sehingga  dapat bebas untuk memilih kedamaian.  Stress dilepaskan ketika kita memilih untuk menafsirkan kata-kata dan tindakan orang lain sebagai tidak mengancam kita dan kita berenti membenci apa yang orang lain katakan dan lakukan.  Kesedian memafkan didasarkan pada pemahaman atas penderitaan orang lain yang mendalam sebagai nsumber yang membangkitkan tindakan yang menykitkan kita (simpati).

KONFLIK
Konflik berkaitan dengan stress atau dengan kata lain konflik dapat terjadi ketika ada dalam tekanan. Bahkan stress dapat menjadi basis munculnya potensi konflik. Arti dari konflik itu sendiri adalah suatu perjuangan yang diekspresikan antara sekurang-kurangnya dua pihak yang saling bergantung yang mempersepsikan tujuan-tujuan yang tidak sepadan, imbalan yang langka, dan gangguan dari pihak lain dalam tujuan mereka. Perjuangan di situ yang dimaksudkan yaitu perbedaan pandangan yang dikomunikasikan dan kemudian dapat menimbulkan konflik. Tanda awal konflik dapat ditandai dengan intensitas dari ketidaksepakatan atau perbedaan pandangan.
GAYA KONFLIK PRIBADI
Gaya konflik merupakan kombinasi dari banyak kepentingan yang dimiliki tiap individu dalam mencapai tujuan yang menggambarkan gaya orang untuk menangani konflik. Ada lima gaya konflik pribadi yaitu :
1.      Pesaing atau pejuang gigih
Orang dengan gaya ini mengejar kepentingannya sendiri secara zalim dan pada umumnya dengan mengorbankan anggota lain.
2.      Kolaborator atau pemecah masalah
Orang yang menggunakan gaya ini berusaha menciptakan suasana yang memungkinkan tujuan semua kelompok dpaat tercapai.
3.      Kompromiser atau pendamai penyiasat
Orang yang menggunakan gaya ini berasumsi bahwa setiap orang yang terlibat dalam suautu pertentangan mampu menerima kekalahan dan ia berusaha membantu menemukan suatu posisi yang dapat dijalankan.
4.      Akomodator atau penolong ramah
Orang yang menggunakan gaya ini  kurang tegas dan cukup kooperatif mengabaikan kepentingannya sendiri demi kepentingan orang lain.
5.      Penghindar atau penurut impersonal
Orang yang menggunakan gaya ini cenderung memandang konflik sebagai tidak produktif dan sedikit menghukum.
Ketika konflik terjadi ada kecenderung membuat konflik berkembang dan sulit ditangani. Dalam kelompok kecil konflik biasanya paling baik dihadapi lewat proses integrasi yaitu gagasan setiap orang menjadi suatu gagasan kelompok.
INTEGRASI
Tujuan dari integrasi adalah memperoleh consensus dengan dasar filosofis bahwa perbedaan dal;am berpikir, merasa, dan berperilaku paling baik diselesaikan dengan memasukkan pandagan semua pihak ke dalam suatu keputusan atau rencana. Perbedaan dalam pemahaman dapat dikelola dengan tiga cara :
1.      Dengan menemukan apa yang orang atau pihak lain maksudkan, seringkali apa yang seseorang maksudkan dpat menhindarkan peningkatan pertentangan.
2.      Dengan mengecek keabsahan bukti dan penalaran, dengan mengajukan data yang sama dan membuat kesimpulan yang sangat berbeda untuk menemukan keakuratan.
3.      Dengan mengidentifikasi suatu nilai atau tujuan yang lebih mendasar yang terkadang disebut tujuan unggul, untuk meningkatkan pemahaman.
Sedangkan pemahaman pada perasaan dapat dikelola dengan lima cara :
1.      Dengan meningkatkan penghargaan diri orang-orang yang bertentangan, salah satu mengurangi pertentangan berdasarkan perasaan yaitu dengan memberikan dukungan ego dan cara-cara memperkuat penghargaan diri.
2.      Dengan menciptakan suatu atmosfer penelitian, menelaah masalah dengan memberikan pertanyaan terbuka karena pertentangan terjadi karena semua alternative belum ditelaah.
3.      Dengan melibatkan setiap anggota kelompok dalam diskusi dengan memeberi kebebasan anggota atau siapapun untuk berpendapat
4.      Dengan mengguankan ringkasan untuk menunjukkan kepada kelompok apa yang ingin dicapai dan belum dicapai untuk mengetahu juga respon dari anggota.
5.      Dengan menyediakan peluang untuk menyatakan perasaan untuk mengurangi pertentangan dengan membiarkan orang lain mengemukan perasaannya.

KONFLIK DAN PROSES ANTARKELOMPOK
Aspek penting dalam komunikasi yaitu hubungan antara kelompok-kelompok. Gejala hubungan yang buruk mudah diindentifikasi. Seperti komunikasi yang buruk atau kegagalan informasi meruapkan suatu gejala yang disebabkan karena kekurangan koordinasi.
KONFLIK ANTARKELOMPOK
Konflik antarkelompok bisa terjadi ketika beberapa kelompok mengalami tekanana sehingga stress atau frustasi. Ada 7 tahap yang dapat menandai silkus proses konflik dengan mencari dan menemukan sumber frustasi yaitu :
1.      Keraguan dan kecurigaan mulai muncul dan memperburuk iklim kelompok
2.      Stereotipe terhadap kelompok luar terdistorsi atau terpopularisasikan dengan komentar verbal yang memisahkan kelompok yang baik dan buruk
3.      Perpaduan dan perasaan yang berkaitan dengan keramahan, ketertarikan, keakraban, dan kepentingan dalam tiap kelompok meningkat
4.      Kepatuhan terhadap norma kelompok dan konformitas juga meningkat dalam setiap kelompok
5.      Kelompok mempersiapkan diri bagi kepemimpinan dan pengarahan yang otoritarian
6.      Muncul permusuhan, hubungan komunikatif berkurang dan tanda lain
7.      Perpisahan komplet sama-sama diharapkan dan usaha positif dihentikan
 Schein menunjukkan bahwa ada dua tipe kolompok dalam konteks konflik yaitu kelompok pemenang yang memiliki kepaduan kuat ketika konflik akan mengalami kekenduran dan menjadi asal-asalan namun mengalami kerjasama intrakelompok dalam nenaggani konflik sedangkan dalam kelompok pecundang cenderung mengabaikan konflik atau tidak terselesaikan.
MENGURANGI KONFLIK ANTARKELOMPOK
1.      Pastikan bahwa infromasi untuk mengatasi masalah dpat ditemukan dan diberikan kepada kelompok yang terlibat.
2.      Pergiliran orang-orang di antra kelompok yang berbeda.
3.      Buatlah agar kelompok berhubungan satu sama lain dengan hubungan dekat dengan menghadirkan kelompok yang mendukung atau menentang
4.      Temukan musuh bersama, bersatu untuk melawan musuh dapat dilakukan dengan mendekatkan hubungan antarkelompok.
5.      Identifikasi atau kembangkan suatau perangkat tujuan bersama.

0 komentar:

Poskan Komentar

Recent Comments