Senin, 13 September 2010

MODEL INTERAKSIONAL

Komunikator interaksional merupakan penggabungan yang kompleks dari individualism sosial; yakni seorang individu yang mengembangkan potensi kemanusiawiannya melalui interaksi sosial. Sebagai diri sosial, istilah yang menggambarkan individualitas komunikator adalah peran. Peran dan diri (diri sosial) berkembang hanya melalui interaksi dengan orang lain. Dengan kata lain, sejak individu mencari perannya dalam masyarakat, dalam berhubungan dengan orang lain, ia berada dalam proses pengembangan diri dengan mengambil peran “orang lain” dan mengamati “diri” sebagai objek orientasinya. Pengalaman dan perilaku yang berulang-ulang dalam waktu lama mempengaruhi penilaiannya terhadap diri sendiri. Jadi, komunikator dalam model interaksional itu sedang melaksanakan atau melakukan peran. Sebagian dari perilaku perannya melibatkan pengambilan peran. Komunikator memandang dirinya dari perspektif “orang lain” serta memandang orang lain dari perspektif dirinya. Karena itu komunikator dapat menyesuaikan perilaku dengan orang lain dengan menyelaraskan tindakan tersebut dengan tindakan orang lain. Komunikator merupakan actor dalam dan pengamat pada proses komunikatif. Tugasnya adalah mengamati diri(sebagai objek) dan orang lain, dan untuk menyesuaikan perilakunya sesuai dengan itu.
Dalam proses pengambilan peran dan penyelarasan perilaku, secara jelas komunikator berhubungan dengan “objek”, mengarahkan perhatian kepada “objek”, dan memformulasikan pengkajian atas “objek” tersebut. Contohnya saja dalam komunikasi dengan komunikator minimal dua orang, dalam proses komunikasi dan tindakan kolektif, setiap komunikator mengorientasikan dirinya kepada semua (diri dan orang lain). Orientasi hanyalah menunjukkan arah dalam proses pengambilan peran.
Dalam situasi komunikatif yang normal, terdapat banyak sekali objek, yang dapat berupa objek lingkungan/pekerjaan, hubungan sosial itu sendiri, tujuan, orang yang lain, peristiwa, dan apa saja yang menjadi topic pembicaraan. Dengan begitu objek tidak hanya berupa fisik, tetapi dapat berupa sesuatu yang abstrak, misalnya saja “cinta” atau “kualitas kehidupan”.
Komponen tambahan dalam perspektif interaksional adalah kesearahan. Adanya kesearahan dalam bidang-bidang yang saling tumpang tindih, dengan diri/orang lain, orang lain/diri, dan objek. Selama orientasi penafsiran pada komunikator itu sama, maka ada kesearahan. Selama orientasi seseorang pada suatu objek itu mencerminkan realitas fakta yang ada, maka orientasi itu tepat, dan orientasi tidak perlu searah.
Lambing merupakan tindakan dan dapat berbentuk suatu perilaku apapun yang mewakilinya (verbal dan non verbal). Lambing itu berarti selama lebih dari satu orang, dalam situasi yang sama dapat mengambil peran dengan hasil-hasil yang sama. Kesamaan dalam pengalaman pengambilan peran yang dijalankan oleh individu-individu yang berbeda mengandung arti adanya system sosial yang mempersatukan. Individu-individu itu termasuk dalam system sosial tersebut atau mengidentifikasikan diri mereka.
Komunikasi manusia selalu terjadi dalam suatu konteks kultural yang dapat ditentukan.untuk suatu peristiwa komunikatif, konteksnya mungkin saja seluas kultural nasional, namun dalam peristiwa yang lain, konteksnya mungkin saja hanya seluas keluarga, atau masyarakat setempat. Setiap individu termasuk dalam banyak konteks kultural yang saling tumpang tindihdan menyesuaikan diri kepada sesuatu yang relevan dari peristiwa komunikatif tertentu. Kita menentukan konteks kultural secara berbeda-beda bagi situasi komunikasi yang berlainan menyelaraskan lambing kita dengan konteks tersebut dan melakukan tindakan-tindakan yang kita anggap sesuai dengan konteks itu.
Menyesuaikan diri bukanlah merupakan komponen komunikasi, tetapi lebih banyak sebagai prinsip yang memberikan pengarahan. Komunikator menyesuaikan dirinya dengan yang lain, dengan diri, dengan objek, dengan situasinya dan dengan peranannya. Setiap komunikator memiliki kemampuan menjalankan lebih banyak lagi perilaku daripada apa yang sebenarnya ia lakukan dalam situasi apapun.
Jadi, model interaksional merupakan model komunikasi yang menekankan bahwa komunikasi berlangsung antara dua orang komunikator, yang mengembangkan potensi manusiawinya melalui interaksi sosial tepatnya melalui apa yang disebut pengambilan peran orang lain. Dua orang komunikator yang saling berkomunikasi akan saling mempelajari perannya, melihat “diri” dan “diri yang lain/orang lain” dan kemudian persepsinya mengenai dirinya sendiri dan orang lain itu digunakan untuk menentukan tindakannya terhadap orang lain. Dalam hal ini, umpan balik atau tanggapan terhadap suatu pesan sangat penting. Karena dalam menentukan tindakan untuk menanggapi pesan dari komunikator lain, kita perlu mempelajari peran masing-masing terlebih dahulu.
DI BAWAH INI MERUPAKAN GAMBAR DARI MODEL INTERAKSIONAL :
sumber : Buku Teori-Teori Komunikasi
nama : Endang Cendaningrum
nomor mahasiswa : 090903690

0 komentar:

Poskan Komentar

Recent Comments